About

banner image

Rabu, 10 Oktober 2012

AD-ART Efektif: Menuju IMAKA Madani

ad art

Pengertian
Sebagai mahasiswa AKA yang sejatinya kita tergabung dalam sebuah wadah organisasi mahasiswa (ormawa) yang akrab kita sebut sebagai IMAKA. Pastilah kita juga pernah mendengar –atau sering- istilah AD/ART IMAKA (anggaran dasar dan anggaran rumah tangga). Istilah tersebut menunjuk pada sumber hukum tertinggi dalam IMAKA.

Minggu, 09 September 2012

Lembaga Dakwah Kampus: Bukan Sekedar UKM

Dewasa ini hampir di setiap lembaga pendidikan tinggi (universitas, akademi, atau sekolah tinggi) kita dapat menjumpai organisasi kerohanian Islam (Lembaga Dakwah Kampus, LDK). Pada umumnya bentuk organisasi tersebut sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan mencakup seluruh lingkungan kampus baik civitas akademika maupun masyarakat sekitar kampus. Bagi aktivis Rohis, mungkin LDK merupakan jenjang lanjutan dari Rohis yang ada di sekolahnya.

ldk
Secara definisi dapat diartikan bahwa UKM adalah sebuah organisasi kemahasiswaan yang merupakan bagian dari ikatan mahasiswa dalam suatu perguruan tinggi yang bertujuan untuk mengembangkan minat, bakat, serta kreativitas para mahasiswa-mahasiswa yang menjadi anggotanya. Sedangkan LDK lebih mengarah kepada pengembangan kualitas ketaqwaan pribadi anggota, dan menyebarkan Islam kepada orang-orang disekitarnya (menyeru=dakwah).

Dilihat dari berbagai sudut pandang maka dapat dilihat ada kekhasan dari LDK-LDK yang ada dibanding organisasi-organisasi lain yang sama-sama berstatus UKM, hal tersebut terkait hal-hal fundamental mengapa didirikannya sebuah organisasi lembaga dakwah kampus.
  1. Organisasi keislaman tidak dapat didefinisikan secara utuh sebagai organisasi pengembangan minat dan bakat. Memang di LDK kita dapat mengembangkan minat dan bakat kita, namun tidak LAZIM jika mengualitaskan diri dengan ilmu keislaman dan kesholehan dianggap sebagai minat dan bakat.
  2. Perbedaan mendasar LDK dan UKM umumnya adalah segi pelayanan. LDK didirikan untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang sekitarnya dengan tanpa mengharap keuntungan sedikitpun, karena tujuannya untuk Allah.
  3. Dari segi cakupan objek aktivitasnya, sebuah LDK menaungi seluruh civitas akademika yang beragama Islam, sehingga LDK dapat berkontribusi dan beraktivitas semaksimal mungkin untuk menyentuh seluruh elemen civitas akademika.
Masih banyak kekhasan LDK lainnya yang dapat dijadikan dasar menjadikan sebuah LDK bukan sekedar UKM Biasa, karena LDK merupakan organisasi peretas peradaban kebaikan, peradaban Islam...

Selasa, 17 Januari 2012

Media : Sang Penghancur Nasionalisme

Hari ini, di era demokrasi yang semakin berkembang dan banyak perubahan di segala sendi kehidupan berbangsa dan bernegara telah memunculkan sebuah kekuatan baru yaitu kekuatan media atau pers.

Pada mulanya, media dijadikan sebagai alat komunikasi dan propaganda isu dan informasi yang berkembang di masyarakat dan kehidupan pemerintahan. Media dianggap sebagai penyambung lidah alternatif selain melalui suara wakil rakyat di gedung nan megah DPR RI. 

Kekuatan pilar keempat demokrasi ini semakin tumbuh dengan pesat karena perkembangan teknologi dan era keterbukaan informasi global. Pada akhirnya ketergantungan akan media dalam kegiatan sehari-hari semakin tak terelakkan.

Media dalam era sekarang ini ibarat pedang bermata dua, di satu sisi memberikan pencerdasan informasi pada masyarakat dan di sisi lain menghancurkan mental anak bangsa. Mengapa demikian?

Sisi Positif

Media informasi yang begitu pesat mengakibatkan informasi di seluruh dunia ibarat digenggaman tangan apalagi dibantu dengan teknologi internet dan gadget terbaru menjadikan hidup dengan akses penuh terhadap “dunia”.

Selain itu, kepekaan politik dan kepedulian terhadap kondisi sesama warga negara akan semakin terpupuk karena informasi yang realtime tersebut. Tak hanya untuk keluarga sendiri namun kondisi masyarakat di pulau lain.

Peran utama media sebagai penyalur aspirasi rakyat juga terbukti mampu memberikan informasi bottom up yang lebih menjanjikan untuk ditindaklanjuti oleh para “penguasa”. Suara rakyat kecil ibarat bola salju yang semakin membesar oleh “kreativitas” media.

Sisi Negatif

Perkembangan media yang sangat pesat memotivasi industri ini untuk saling bersaing untuk menjadi terbaik dalam pemberitaan maupun isu yang dikembangkan. Sehingga sering muncul berita-berita “sampah” yang tak berguna hanya untuk mengisi dateline yang telah ditentukan. Begitu banyak informasi tak bermutu yang menghiasi situs-situs media maupun berita live di televisi. Inilah bentuk kepentingan dan keegoisan media di era global.

Berbicara media tak berlepas dari kekuatan politik dan pemerintahan. Siapa yang menguasai media maka akan mampu mengusai isu nasional bahkan internasional. Isu-isu yang sengaja dikerucutkan untuk kepentingan politik ini menjadikan media hanya sebagai alat pemenuhan kepentingan golongan. Sudah saatnya media bersikap objektif dan independen!

Sang Penghancur

Poin utama peran utama dari pergeseran peran media adalah lunturnya jiwa nasionalisme anak bangsa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa prinsip jurnalistik adalah “kabar buruk adalah berita baik, kabar baik adalah berita buruk” yang membuat media berperan sangat signifikan menunjukkan kekurangan-kekurangan bangsa ini. Sangat tak terelakkan dalam keseharian kita bahwa setiap waktu kita disuguhkan berita mengenai kekurangan bangsa ini, kasus-kasus ketidakteladanan pemimpin-pemimpin rakyat, korupsi, perbuatan amoral, kondisi ekonomi bangsa, atau uang negara yang terus dikeruk oleh asing. Hal ini bukan berarti saya membela pemerintah yang sedang berkuasa.

Mungkin hal tersebut benar dan dapat dibuktikan secara objektif, namun tidak relevan jika hanya kekurangan-kekurangan saja yang diinformasikan. Padahal masih banyak hal positif dari bangsa ini yang menjadikan kita bangga sebagai putra bangsa.

Tak dapat dipungkiri isu-isu negatif dari media terhadap bangsa ini membuat sebuah paradigma bahwa bangsa ini sangatlah buruk dan tidak ada hal yang bisa dibanggakan dari negara kita ini. Paradigma tersebut yang tertanam pada generasi muda saat ini. Jika hal ini terus berlanjut maka sangatlah wajar jika para pemuda akan apatis terhadap bangsa ini.

Pemuda yang apatis tak akan memberikan sumbangsih untuk bangsa justru hanya menjadi masalah baru bagi bangsa ini. Siapakah yang bertanggung jawab dengan semua ini???...

Hal-hal besar adalah akumulasi hal-hal kecil

Jumat, 23 Desember 2011

Darah Perjuangan


Cucuran letih diterik panas jalan perjuangan
Peluh keringat membasahi raga yang lunglai
Debu merayap di trotoar menanti teriakan-teriakan aktivis
Tangis dikala penat dalam kegelisahan jiwa
Itulah yang mungkin pernah dan akan slalu kita rasakan…

Di dunia lain…
Dentuman bom-bom senantiasa menghantui setiap perjalanan
Mortir melayang-layang mencari mangsanya
Bukan bercucuran keringat, tapi bermandikan darah
Bukan sekedar teriakan-teriakan, tapi peluru yang terlepas dari senjata
Tak sekedar waktu kuliah yang terkorbankan, tapi nyawa pun tergadaikan
Anak-anak kecil berlarian bermodal batu di tangan tanpa tahu apa yang di hadapnya..

Wahai kawan…
Seberapa banyakkah waktu yang telah kita berikan untuk berjuang?
Berapa banyakkah kita menginfaqkan rizki yang kita punyai untuk anak-anak yang tidak cukup makan?
Sudah berapa kalikah kita tidak kuliah untuk ikut aksi di jalanan?
Sudahkah kita saling memahami dalam perjuangan  ini?

Letih memang letih
Penat memang penat
Tetesan air mata pun wajar…

Tapi, apakah cukup dengan itu semua kita mampu mencicipi surga-Nya yang abadi?
Layakkah kita disebut seorang Pejuang Islam?
Pantaskah jikalau kita meninggal akan dikatakan sebagai syuhada?
Atau masih berbanggakah kita sebagai tentara ALLAH?

Sehingga masih layakkah kita berkeluh kesah?

Obama dan Nobel Perdamaian

Pada Jumat malam (9/10), Komite Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia mengumumkan bahwa Presiden AS, Barack Obama memenangkan hadiah Nobel Perdamaian yang sangat bergengsi. Hal tersebut cukup mengejutkan beberapa pihak, karena Obama belum genap setahun menjabat sebagai presiden negara adidaya tersebut. Menurut Komite Nobel Perdamaian, Obama meraih penghargaan nobel karena upayanya untuk meningkatkan diplomasi internasional, terutama menjalin hubungan dengan negara muslim dan juga karena upayanya untuk melucuti senjata nuklir.

Sejak menjadi presiden AS mulai Januari 2009 lalu, Obama berusaha membentuk gambaran dan pandangan baru mengenai hubungan AS dengan negara-negara di dunia, terutama negara muslim yang selama ini AS dianggap menjajah dan memusuhi negara muslim disaat kepemimpinian George W. Bush. Namun, hal tersebut belum sepenuhnya sesuai dengan kenyataan. Di satu sisi Obama menyerukan perdamaian, di sisi lain AS masih terus menginvasi Irak dan Afghanistan.

Sungguh amat disayangkan, Liga Arab juga memberikan apresiasi kepada Obama atas Nobel Perdamaian yang baru saja diraihnya. Seakan-akan mereka lupa apa yang telah dilakukan oleh sekutu utama AS, Israel di Palestina.Yahudi Israel laknatullah telah mebuat sengsara saudara-saudara kita di Palestina.

Israel dengan semena-mena telah menumpahkan darah muslimin, menawannya, dan juga mengisolasinya. Israel dan AS adalah sama-sama penjajah sejati yang harus di enyahkan dari muka bumi.

Selain di Palestina, banyak umat muslim yang menderita. Di Afghanistan, Irak, dan juga Pakistan. Amerika Serikat mengatasnamakan penumpasan terorisme dan juga demi perdamaian dunia, padahal yang AS lakukan adalah sebuah wujud penjajahan yang nyata untuk mendapatkan kekayaan sumber daya alam berupa minyak bumi dan gas alam yang dimiliki negara-negara tersebut. Penjajahan yang membuat kesengsaraan yang berkepanjangan, konflik, kemiskinan, dan lain-lain.

Selain memperbaiki hubungan dengan dunia Islam, Obama juga ingin membebaskan dunia ini dari senjata nuklir. Dengan dalih ini juga AS telah menghancurkan Irak dan menjajahnya. Sekarang AS tengah berusaha untuk menguasai Iran dengan isu-isu mengenai penggunaan nuklir ini. Padahal Iran melakukan pengayaan uranium hanya untuk mencukupi kebutuhan energi listrik di negaranya.

Ironis sekali memang, seorang yang selama ini mengorbankan api peperangan di berbagai negara – terutama negara arab, negara Islam—dianggap sebagai seorang yang layak menjadi pelopor terwujudnya perdamaian di bumi. Ternyata banyak yang telah buta mata hatinya sehingga tidak bisa membedakan mana yang menyebabkan pertikaian dan mana yang membawa perdamaian.

Supriyadi

Diajukan sebagai syarat peserta

Dauroh Marhalah 1 KAMMI

(17-18 Oktober 2009)

Minggu, 18 Desember 2011

Refleksi (kumpulan refleksi diri)

Kita mungkin tahu sesuatu
Kita mungkin paham akan sesuatu
Tapi, kelemahan kita adalah enggan melakukan sesuatu.
Pejuang hanya memperjuangkan niat dan cita-cita yang luhur tanpa terkotori niat untuk terkenal atau dikenal.
Untuk menjadi pemenang, tidak harus mengalahkan orang lain. Justru kemenangan sejati adalah saat-saat bisa membuat orang lain menjadi pemenang-pemenang.
Kita jadi lebih perhatian pada siapa yang menyampaikan dan semua tindak tanduknya dibanding pesan itu sendiri. Dan itu suatu bentuk ketidaksadaran.

Mari renungi pernyataan Ali r.a.
"Dengar apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan."
Sabar memberikan kenikmatan tersendiri bagi orang yang mampu menggenggamnya.
Seandainya jalan dakwah memberikan kemudahan tanpa ujian pasti banyak sekali yang ikut perjuangan dakwah
Kita seharusnya malu jika kepemimpinan setelah kita lebih buruk dari kita. Sebenarnya kegagalan tersebut adalah kegagalan kita.
Dakwah tidak dengan untaian kata indah penuh makna tapi tak terlaksana. Tapi dakwah adalah aksi untuk bekerja bukan berwacana.
Masa lalu adalah pelajaran, masa kini adalah pembuktian, dan masa depan adalah harapan.
Banyak orang dengan kemampuan luar biasa enggan berjuang
Tapi, banyak orang yang biasa-biasa saja namun MAU berjuang dan berkorban.

Untuk yang pertama,surga bukan buat antum!
Untuk yang kedua, Allah bersamamu kawan!
Suatu saat orang yg dianggap "sampah" akn memberikan pertolongan kepada orang-orang yang telah mencacinya.
Karena ia amat ikhlas...
Sebenarnya kita berjuang, menjadi aktivis untuk siapa. Apakah untuk kejayaan organisasi dan label pribadi. Ataukah untuk keberhasilan dakwah yang berhadiah kekal di surga.
Pemimpin itu disiapkan dengan sebaik-baiknya. Tidak semerta-merta menjadi pemimpin karena kebutuhan tanpa disiapkan. Sesungguhnya setiap kita bekewajiban menyiapkan generasi terbaik untuk kemaslahatan peradaban sebuah tanggung jawab yang melekat dg nilai keimanan dan penghambaan.
Ibnu Abbas berkata, “Jika seorang berilmu tidak mampu berkata saya tidak tahu maka tidak mengapa jika dia diperangi.”
Disadari atau tidak, setiap waktunya kita mengalami perubahan baik dalam diri kita maupun lingkungan.
Uniknya,kita jarang merasakanya bahkan setiap masalah baru selalu dihadapi dengan cara-cara lama.
Kembali memahami esensi dakwah.
Seiring prkmbangan dakwah dan bertmbahnya jumlah aktivis menmbulkan bnyak persoalan yg sbenarnya bermula dari pembinaan.

Sabtu, 17 Desember 2011

Kontribusi Tak Kenal Henti

"Berkontribusi dan berkarya tak pernah memandang usia dan jabatan. Tetapi besarnya karya bergantung seberapa tekad dan keikhlasannya"


"Tak memberi karena merasa tak pernah diberi menandakan hati yang miskin dan perlu dikasihani. Maka jadilah kaya dengan memberi sepenuh hati."


"Terkadang 1000 orang mencerminkan semangat perjuangan satu orang dan terkadang 1 orang memiliki semangat 1000 orang."